SETELAH Shinta-Jojo, kali ini Indonesia geger gara-gara ulah usil seorang brimob di Gorontalo. Bagaikan artis yang sedang naik daun, Briptu Norman Kamaru tiba-tiba saja berubah menjadi profesi dari seorang polisi menjadi public figure.
Ini bermula dari video ungguhannya di youtube. Terlihat ketika dirinya sedang berkerja, lengkap dengan seragam kebanggaan polisi, ia malah berjoget ria bak pemain film terkenal Sharukhan. Lagu chaiya-chaiya sekejap mungkin membawa dirinya menjadi popular di kalangan masyarakat.
Sekelebat mungkin, banyak pihak yang merasa terhibur dan ada juga yang merasa dipermalukan. Dari sudut terhibur, pastinya dari golongan masyarakat. Tak sedikit warga yang menjadi terhibur gara-gara ulah kocak sang Briptu. Dengan senyuman manis dan goyangan yang aduhai, banyak pihak jatuh hati dengan perawakan Norman Kamaru.
Ada yang terhibur, ada pula yang tersentil. Di beberapa media tak lama setelah video tersebut beredar, beberapa aparat kepolisian sangat menyesali atas sikap dan perbuatan yang dilakukan sang Briptu. Briptu Norman Kamaru dianggap telah lalai dalam berkerja dan dihimbau agar dirinya segera diberi sanksi administratif.
Awalnya tak pernah terpikirkan oleh Norman Kamaru, bahwa aksi lipsingnya akan membuat ia menjadi idola seperti saat ini. Tapi bukan Indonesia namanya, kalau segala sesuatu hal yang kecil bisa menjadi sesuatu hal yang luar biasa. Masih segar dipikiran kita bagaimana aksi dua insan cantik Shinta dan Jojo membawakan lipsing lagu keong racun. Keduanya langsung mencuat di permukaan. Menurut hemat penulis, sedikit banyaknya kejadian lucu sang polisi Gorontalo tersebut bisa disandingkan kasusnya seperti Shinta dan Jojo.
Jejaring sosial seperti facebook, twitter pun turut serta meramaikan pembicaraan mengenai Norman. Tak lama terciptanya sebuah akun facebook yang bertajuk “Satu juta mendukung Briptu Norman Kamaru.” Jalinan kasihnya dengan sang pacar –Indriyani Hamani- pun ikut menjadi main topic sang briptu. Briptu Norman Kamaru nampaknya sudah mulai berubah profesi
Hiburan Buat Masyarakat, Pejabat dan Entertainer.
Baru-baru ini Briptu Norman Kamaru dibopong adari Gorontalo ke Jakarta yang tujuan awalnya untuk menjalankan tugas binamitra. Tapi dibalik itu semua ternyata Norman juga menerima beberapa panggilan show. Mulai dari masyarakat umum, beberapa produksi program televisi swasta, penyanyi papan atas seperti Nia Daniati bahkan pejabat Negara seperti Mentri Kelautan Fadel Muhammad.
Media semakin marak membuat pemberitaan. Aksi Norman pun terekam dengan bebasnya di berbagai siaran televisi. Terlihat aksi lipsingnya dilakoni lengkap dengan seragam pakaian polisi. Persis seperti yang beredar di jejaring Youtube.
Ironisnya Kapolda Gorontalo khsusus mengundang Norman untuk sekadar bersilaturahmi ke rumahnya. Mendengar kabar tersebut, warga sekitar yang berdomisili tak jauh dari rumah sang kapolda tersentak untuk datang beramai-ramai guna melihat artis dadakan yang sangat mereka kagumi itu.
Bagaikan artis terkenal yang akan mendapatkan ganguan dari para pengangumnya, ketika sampai di tujuan sang briptu dikawal ketat dari teman seprofesinya-polisi. Tampak ia menyamar dengan menggunakan sebuah jaket yang menutupi kepalanya.
Tak lama ia keluar di atas balkon sang kapolda, lagi-lagi lengkap dengan seragam kebangsaan. Bagaikan warga yang ingin meminta Bantuan Langsung TUnai (BLT), mereka berteriak-teriak memaksa sang idola bernyanyi dan berjoget dari bawah. Berikutnya, Norman mulai beraksi.
Pahlawan atau Seniman ?
Perlahan keberadaan Norman benar-benar sudah melekat dihati seluruh warga Indonesia. Penggemarnya beragam, mulai dari anak kecil, remaja, dewasa dan bahkan orang tua.
Jam terbang Norman di beberapa siaran televisi juga semakin tinggi. Mulai dari wawancara khusus sampai dengan aksi goyang di depan banyak penonton. Distribusi rekaman juga tak mau kalah. Beberapa di antaranya merekrut Norman untuk membuat sebuah cuplikan lagu India berjudul “chaiya-chaiya”.
Sedikit disesali oleh penulis, keunikan sang briptu seakan-akan membuat pencitraan sang polisi menjadi tak dirasakan idealismenya. Singkatnya terlalu dieksploitasi. Profesi seorang polisi banyak dielu-elukan sebagai salah satu profesi yang mempunyai nilai plus setelah dokter. Tetapi semenjak kejadian tersebut, dirasakan pencitraan sang polisi berubah menjadi sang pahlawan menjadi seniman.
Sedikit banyaknya aksi fenomenalnya yang terkuak di kalangan media, telah membuat banyak hati menjadi terhibur, tapi apakah ini hasil yang diinginkan rakyat kepada sosok seorang aparat keamanan Negara. Kesimpulannya, hiburan ini bisa di anggap sebagai kelalaian yang masih dalam keadaan wajar. Tapi hendaknya, agar setiap polisi ataupun juga khalayak ramai hendaknya mulai sekarang ini harus bisa bertindak-tanduk secara hati-hati. Seorang aparat keamanan harus bisa menegakkan kebenaran dan pencintraan idealisme yang merdeka.